August 27, 2016

Urutan logika siklus nakalnya anak

Untuk segenap orang tua!.
Refleksi luar biasa dari Mas Agus Zainal Arifin (Dekan TI ITS dan penggagas tren sain tebuireng) bagi para orang tua maupun dosen/guru yang untuk sementara waktu berprofesi sebagai pengganti orang tua di rumah. Selamat menghayati dan mengamalkan (afs)

Urutan logika siklus nakalnya anak dengan tidak bijaknya orang tua itu begini:
* Karena anaknya nakal, maka orang tuanya murka.
* Karena orang tuanya murka, maka Tuhan juga murka.
* Karena Tuhan murka, maka tidak turun rahmat di rumah itu
* Karena tidak turun rahmat di rumah itu, maka keluarga itu akan banyak masalah.
* Karena keluarga itu banyak masalah, maka anaknya tidak merasakan kebahagiaan dan tidak nyaman, sehingga akan makin nakal.

Prinsip inti siklusnya sebenarnya masih pada orang tua, yakni:
* Ridlo Allah berada pada ridlonya orang tua.
* Murka Allah berada pada murkanya orang tua.

Maka strategi paling efisien untuk memutus rangkaian siklus itu, Insya Allah ada pada bagian awal, yakni mencegah orang tua murka. Bila orang tua segera menghadapi anaknya dengan kasih sayang dan tidak dengan kemurkaan, maka orang tua itu menunjukkan kepada Tuhan bahwa mereka berdua ridlo kepada anaknya. Tentu bukan ridlo terhadap kenakalannya, melainkan ridlo kepada diri anaknya.

Dengan memastikan ridlo kepada anak, maka orang tua akan dapat melakukan 3 tahap ini:
1.  Segera memaafkan anaknya, tidak memarahinya sama sekali, dan segera berusaha memahami situasi apa yang sedang dihadapi anaknya.
2. Segera menemui, berdialog, dan turut mendiskusikan solusi terbaik apa yang harus diambil oleh anak, orang tua, atau pihak lainnya, sambil terus mendoakannya.
3. Segera melupakan segala kesalahan anaknya tadi dan tidak mengungkit-ungkitnya kembali.

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Bila kalian memaafkannya, menemuinya, dan melupakan kesalahannya, maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS 64:14.

Dengan konversi murka menjadi ridlo, maka sekarang siklusnya jadi begini
* Suatu hari anak itu nakal. Orang tuanya segera melakukan 3 tahap itu dengan penuh kasih sayang, sebagai wujud keridloan mereka kepada anaknya.
* Karena orang tua anak itu ridlo, maka Tuhan meridloinya.
* Karena Tuhan meridloinya, maka rumah yang penuh ridlo itu dirahmati Tuhan.
* Karena rumah itu penuh rahmat Tuhan, maka keluarga itu penuh kasih sayang, sehingga jadi makin bahagia.
* Karena keluarga itu bahagia, maka anak tidak akan sempat lagi nakal, sebab setiap masalah hidupnya selalu segera mendapat solusi.

Jadi pada setiap kenakalan anak, (mohon maaf) lokasi perbaikannya sesungguhnya bukan pada anak, melainkan pada orang tuanya si anak.... semoga bermanfaat.

Urutan logika siklus nakalnya anak

Untuk segenap orang tua!.
Refleksi luar biasa dari Mas Agus Zainal Arifin (Dekan TI ITS dan penggagas tren sain tebuireng) bagi para orang tua maupun dosen/guru yang untuk sementara waktu berprofesi sebagai pengganti orang tua di rumah. Selamat menghayati dan mengamalkan (afs)

Urutan logika siklus nakalnya anak dengan tidak bijaknya orang tua itu begini:
* Karena anaknya nakal, maka orang tuanya murka.
* Karena orang tuanya murka, maka Tuhan juga murka.
* Karena Tuhan murka, maka tidak turun rahmat di rumah itu
* Karena tidak turun rahmat di rumah itu, maka keluarga itu akan banyak masalah.
* Karena keluarga itu banyak masalah, maka anaknya tidak merasakan kebahagiaan dan tidak nyaman, sehingga akan makin nakal.

Prinsip inti siklusnya sebenarnya masih pada orang tua, yakni:
* Ridlo Allah berada pada ridlonya orang tua.
* Murka Allah berada pada murkanya orang tua.

Maka strategi paling efisien untuk memutus rangkaian siklus itu, Insya Allah ada pada bagian awal, yakni mencegah orang tua murka. Bila orang tua segera menghadapi anaknya dengan kasih sayang dan tidak dengan kemurkaan, maka orang tua itu menunjukkan kepada Tuhan bahwa mereka berdua ridlo kepada anaknya. Tentu bukan ridlo terhadap kenakalannya, melainkan ridlo kepada diri anaknya.

Dengan memastikan ridlo kepada anak, maka orang tua akan dapat melakukan 3 tahap ini:
1.  Segera memaafkan anaknya, tidak memarahinya sama sekali, dan segera berusaha memahami situasi apa yang sedang dihadapi anaknya.
2. Segera menemui, berdialog, dan turut mendiskusikan solusi terbaik apa yang harus diambil oleh anak, orang tua, atau pihak lainnya, sambil terus mendoakannya.
3. Segera melupakan segala kesalahan anaknya tadi dan tidak mengungkit-ungkitnya kembali.

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Bila kalian memaafkannya, menemuinya, dan melupakan kesalahannya, maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS 64:14.

Dengan konversi murka menjadi ridlo, maka sekarang siklusnya jadi begini
* Suatu hari anak itu nakal. Orang tuanya segera melakukan 3 tahap itu dengan penuh kasih sayang, sebagai wujud keridloan mereka kepada anaknya.
* Karena orang tua anak itu ridlo, maka Tuhan meridloinya.
* Karena Tuhan meridloinya, maka rumah yang penuh ridlo itu dirahmati Tuhan.
* Karena rumah itu penuh rahmat Tuhan, maka keluarga itu penuh kasih sayang, sehingga jadi makin bahagia.
* Karena keluarga itu bahagia, maka anak tidak akan sempat lagi nakal, sebab setiap masalah hidupnya selalu segera mendapat solusi.

Jadi pada setiap kenakalan anak, (mohon maaf) lokasi perbaikannya sesungguhnya bukan pada anak, melainkan pada orang tuanya si anak.... semoga bermanfaat.

August 26, 2016

Jangan Mainkan Semua Peran

By  : Ibu Elly Risman
(Senior Psikolog dan Konsultan, UI)

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi Allah yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri .

Jangan memainkan semua peran,
ya jadi ibu,
ya jadi koki,
ya jadi tukang cuci.

ya jadi ayah,
ya jadi supir,
ya jadi tukang ledeng,

Anda bukan anggota tim SAR!
Anak anda tidak dalam keadaan bahaya.
Tidak ada sinyal S.O.S!
Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

#Anak mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini...Ayah bantu!".

#Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini...Mama saja".

#Tali sepatu sulit diikat, "Sini...Ayah ikatkan".

#Kecipratan sedikit minyak
"Sudah sini, Mama aja yang masak".

Kapan anaknya bisa?

Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana,
Apa yang terjadi ketika bencana benar2 datang?

Berikan anak2 kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.

Kemampuan menangani stress,
Menyelesaikan masalah,
dan mencari solusi,
merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki.

Dan skill ini harus dilatih untuk bisa terampil,
Skill ini tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim!

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.

Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi,
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.

Tampaknya sepele sekarang...
Secara apalah salahnya kita bantu anak?

Tapi jika anda segera bergegas mnyelamatkannya dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu.

Sakit sedikit, mengeluh.
Berantem sedikit, minta cerai.
Masalah sedikit, jadi gila.

Jika anda menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan uang untuk IQ nya, maka habiskan pula hal yang sama untuk AQ nya.

AQ?
Apa itu?
ADVERSITY QUOTIENT

Menurut Paul G. Stoltz,
AQ adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Bukankah kecerdasan ini lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?

Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya.
Bisa menyelesaikan masalah, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tidak sanggup lagi.

So, izinkanlah anak anda melewati kesulitan hidup...

Tidak masalah anak mengalami sedikit luka,
sedikit menangis,
sedikit kecewa,
sedikit telat,
dan sedikit kehujanan.

Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan.
Ajari mereka menangani frustrasi.

Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel,
Apa yang terjadi jika anda tidak bernafas lagi esok hari?

Bisa2 anak anda ikut mati.

Sulit memang untuk tidak mengintervensi,
Ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih.

Apalagi menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi,
Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua.

Tapi sadarilah,
hidup tidaklah mudah,
masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan.
Melewati hujan, badai, dan kesulitan,
yang kadang tidak bisa dihindari.

Selamat berjuang untuk mencetak pribadi yg kokoh dan mandiri .....

https://ihei.wordpress.com/2016/08/09/jangan-mainkan-semua-peran/

June 2, 2016

Tujuh Hal Anu Ngabatalkeun Puasa

Dari tetangga:

Sakedap deui urang bade ngalakonan Puasa, peryogi di perhatos keun saurna... 
aya TUJUH HAL anu matak ngabatalkeun kana Puasa :

1. DIUK

Diuk di warung Padang tuluy mesen rendang, éta nu matak ngabatalkeun kana puasa, tapi lamun diukna ngan ukur ngobrol tuluy pesen téh manis, éta gé sarua batal puasana

2. LUMPAT

Lumpat tarik pisan ngajugjug Warteg tuluy pesen téh botol éta matak ngabatalkeun puasa, komo bari tuluy pesen mie rebus mah.

3. NGALUNGKEUN DUIT KENCRING

Ngalungkeun duit kencring bisa ngabatalkeun puasa, lamun pas dialungkeun ditéwak ku tukang céndol, tuluy ditukeuran ku és céndol sagelas.

4. SURA SEURI

Sura-seuri gé matak ngabatalkeun puasa, lamun sura-seurina sanggeus nginum Coca cola, tuluy ngaleguk Sprite atawa Fanta.

5. NGALAMUN

Ngalamun bisa ngabatalkeun puasa, lamun ngalamuna dibarengan ku ngebul haseup rokok tina baham.

6. MAEN FACEBOOK atawa BBM

Maen Facebook atawa BBM an ogé matak ngabatalkeun puasa, lamun gigireun aya cikopi jeung goréng pisang haneut kénéh ditambah sabungkus Rokok, tuluy diopi.

7. HITUT

Hitut sanggeus ngadahar kulub hui bisa dikatagorikeun ngabatal keun puasa, hitutna waé bisa ngabatalkeun Wudlu, komo ngadahar kulub hui pasti batal puasana.

Rumahku Madrasahku

RUMAHKU, MADRASAHKU
(Sari Kajian Keluarga, bersama Ustadz Salim A. Fillah)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saya ikut tercengang, waktu ustadz menyampaikan hasil survei kecil-kecilan yang beliau lakukan pada keluarga aktivis di Yogyakarta tahun 2005 lalu. Salah satu hal yang beliau survei adalah para anak-anak dari keluarga aktivis tersebut. Dan hasilnya, 30% dari seluruh sampel menyatakan harapannya, kelak jika sudah dewasa mereka tidak ingin mengikuti jejak orangtuanya (menjadi aktivis dakwah).

Melihat hasil survei yang begitu “menyakitkan” tersebut, ustadz pun memfollow-up dan melakukan kontak intensif dengan narasumber. Fenomena apakah ini?

Dan ternyata, anak-anak para aktivis ini menganggap bahwa dakwah telah merebut sebagian besar waktu kedua orang tuanya. Dakwah sudah merebut bahkan hampir seluruh perhatian orang tuanya.

Mendapat jawaban yang demikian, ustadz pun mengkroscekkan hasil tersebut pada para orang tua. Dan memang, ternyata “ada yang salah”. Salahnya bukan pada dakwahnya, melainkan ada pada cara orang tua memposisikan diri di tengah-tengah keluarganya, sehingga menimbulkan persepsi yang salah dalam diri anak-anak.

Salah satu contoh kecil saja, tentang kepulangan. Bagi anak-anak, saat-saat yang paling dinantikan adalah berada di pelukan kedua orang tuanya. Namun, masih banyak di antara kita yang ternyata semangat luar biasa saat mau aktivitas ke luar, namun lesu saat pulang ke rumah. Bahkan sekadar menyambut pelukan anak-anak yang antusias menunggu bapak atau ibunya pulang saja, mereka enggan. Apatah lagi saat diajak main, apatah lagi saat diminta gendong dan seterusnya.

“Abaaaaah!!” teriak seorang balita begitu tahu abahnya pulang dan berjalan memasuki rumah.

Tapi, alangkah mirisnya. Jawaban yang diperoleh si anak justru, “Nak, abah capek. Abah tadi habis ngisi kajian ini-itu, sekarang mau istirahat. Tolong main sendiri dulu ya.”

Dan si anak akhirnya kembali masuk rumah dengan lesu dan penuh kekecewaan.

Dan itu terjadi tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Bahkan mungkin setiap hari.

Poin pertama: kepulangan.

Pulang, seyogyanya menjadi momen paling indah dalam rangkaian kegiatan harian kita. Tidak hanya bagi para ayah atau ibu yang beraktivitas di luar rumah. Namun juga bagi anggota keluarga yang lain, yang berada di rumah, menunggu. Bukankah kita pun mengharapkan kepulangan yang indah berjumpa dengan Rabb kita? Kenapa dengan anugerah-Nya, nikmat berupa keluarga, kita tidak mengupayakan kepulangan terbaik?

Rasulullah saw sudah mencontohkan. Bagaimana beliau sibuk aktivitas di luar rumah, namun dalam kondisi terbaik saat pulang ke rumah. Pun saat pasukan Muslim hendak memasuki kota Madinah setelah berperang, beliau menyuruh pasukan tersebut bermalam dulu dan merapikan badannya. Sebab, kondisi badan terbaik itu hak Allah dan hak keluarga.

Saat pulang pun, Rasulullah langsung memeluk istri dan anak/cucunya. Bahkan juga tak jarang langsung bermain-main dengan Hasan dan Husain, cucu beliau dari Fatimah. Masya Allah!

Poin pertama: pulang. Jadikan kepulangan sebagai momen terbaik bagi seluruh anggota keluarga. Bagi para suami, jangan lupa berikan senyum terbaik saat memasuki rumah. Bagi para istri, sambut kepulangan suami dengan kondisi terbaik. Jangan sampai justru sebaliknya, saat hendak pergi dengan kondisi terbaik, dan saat pulang lesu tak bersemangat. Na’udzubillah.

Selain masalah kepulangan, hal selanjutnya yang menjadi sorotan yaitu persepsi anak tentang ajaran agama. Pernah suatu ketika ada yang datang dan berkonsultasi dengan Ustadz Salim. “Ustadz, anak saya usianya sudah 10 tahun lebih kok susah banget ya disuruh sholat?” tanya seorang ibu.

Usut punya usut, si ibu sudah mulai mengajarkan sholat bahkan sejak usia 2 tahun. Namun bukan itu yang menjadi pokok permasalahan. Pengenalan ibadah (khususnya sholat) menjadi hal yang begitu menyeramkan. Betapa ibu ini langsung berubah menjadi monster di saat sholat. Saat anak menaiki punggungnya, menarik-narik mukenanya, berisik di kanan kirinya, itulah momen yang membuat si ibu naik darah. Anak yang belum paham apa-apa itu dimarahinya, bahkan tak jarang dicubitnya.

Rasulullah saw bersabda, “Ajarkan anak sholat di usia 7 tahun, pukul ia (jika melawan) saat usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya.”

Hal yang perlu kita renungkan. Mengapa Allah dan Rasulullah memberikan batasan pengajaran sholat MULAI umur 7 tahun? Kenapa tidak 3 tahun, atau bahkan 2 tahun? Kenapa lama sekali harus menunggu 7 tahun?

Ternyata, jawabannya ada di surat Lukman. Allah mengabadikan nama Lukman Al-Hakim dalam Al-Qur’an karena bijaknya beliau mendidik anak. Dalam surat Lukman ayat 12-17, kita bisa sarikan tentang tahap-tahap mendidik anak, yakni:
1. Menanamkan kesyukuran
2. Menanamkan tauhid (tidak menyekutukan Allah)
3. Menanamkan muraqabatullah (rasa dekat dengan Allah)
4. Mendirikan sholat

Hal yang menarik. Kenapa mendirikan sholat ada di urutan terakhir pada tahapan di atas? Tidak lain karena tugas berat kita, bahkan yang telah diterapkan oleh generasi awal Islam, adalah mengajarkan 3 hal ke anak. Yakni rasa syukur, tidak menyekutukan Allah, dan muraqabatullah. Ini berat, sangat berat. Perlu waktu bertahun-tahun. Dan Allah memberi tenggang kepada kita sampai umur 7 tahun.

Pertama, menanamkan kesyukuran kepada Allah. Pengajaran syukur tidak sekadar mengajarkan anak mengucap alhamdulillah. Akan tetapi syukur yang sebenarnya syukur. Dimulai dengan penanaman konsep diri ke anak sejak bayi. Bahwa kehadirannya merupakan nikmat tak ternilai dari Allah lebih dari apapun. Berada di sisinya menyejukkan kalbu. Bercanda dengannya adalah demikian menyenangkan. Bahwa seluruh anggota keluarga adalah qurrota a’yun (penyejuk mata) bagi anggota keluarga yang lain harus diupayakan. Jangan justru hal yang menyejukkan mata kita dari bangun tidur hingga tidur lagi ialah gadget. Na’udzubillah.

Kedua, menanamkan tauhid (tidak menyekutukan Allah). Mengajarkan kepada anak tentang tauhid ini sungguh hal yang luar biasa berat. Salah-salah, kita bukannya membuat anak mengesakan Allah, namun justru malah menjadikan anak takut kepada “marahnya kita waktu mengajarkan tauhid”. Atau juga terjadi, saking semangatnya kita mengaitkan Allah dalam keseharian anak kita, namun tidak pada tempatnya.

Sebagai contoh, saat anak “mengganggu” orang sholat, kita langsung meradang, sambil bilang, “Nak, nggak boleh begitu, Allah nggak suka.” Atau saat anak berisik di pengajian, kita menegurnya pula dengan bilang, “Nak, Allah nggak suka itu. Jangan berisik ya.”

Niat kita bagus, menegur anak dan mengaitkan Allah pada segala hal yang “buruk”. Namun dampaknya justru seringkali tertanam dalam diri anak, bahwa Allah itu Maha Tidak Suka. Padahal sebenarnya, kitalah yang tidak suka dengan perbuatan anak kita tersebut. Alih-alih mengajarkan tauhid, kita malah melenceng tanpa sadar dari ketauhidan itu sendiri (dikarenakan menyandarkan sesuatu yang Allah larang tidak pada tempatnya, tidak ada dalil pastinya).

Dan, terkait kondisi si ibu tadi, bahwa setiap anaknya “mengganggunya” sholat, ia marah, meradang, bahkan mencubit, itu juga tidak dianjurkan. Tanpa sadar, kita justru sedang mengajarkan bahwa ibadah itu menyebalkan, mengganggu masa-masa bermain anak. Padahal, teladan terbaik kita, Rasulullah saw sangat lembutnya pada anak-anak. Hatta saat beliau sedang sholat. Ingatlah, bagaimana beliau mengimami sholat sambil menggendong Umamah, anaknya Zainab binti Muhammad. Ingatlah, bagaimana beliau melamakan sujudnya karena punggungnya ditunggangi Hasan bin Ali. Untuk urusan pengajaran ibadah, beliau saw sangatlah lembut. Sebaliknya, untuk urusan makanan yang masuk ke perut, beliau tegas. Harus yakin halal-haramnya dulu.

Fenomena yang terjadi justru terbalik. Kita sangat tegas, bahkan cenderung menakut-nakuti, saat mengajarkan ibadah pada anak, namun melunak dalam soal makanan. Jajan misalnya. Itu terbalik ya ibu-ibu, bapak-bapak…!

Ketiga, muraqabatullah atau kedekatan kepada Allah. Amalan kita, sekecil apapun, seberat zarrah (biji sawi) sekalipun, akan dihisab di hadapan Allah. Pun perbuatan buruk kita, sekecil apapun, juga tak luput dari perhitungan-Nya. Ini juga sangat penting kita ajarkan kepada anak. Ialah menjalin kedekatan dengan Allah.

Dan yang keempat, barulah aqimissholah, mendirikan sholat. Puncak dari rasa syukur, mengesakan Allah, dan muraqabatullah, tidak lain dan tidak bukan ialah ringannya kita beribadah kepada Allah. Oleh karenanya, Allah memberi tenggang waktu kita, tujuh tahun, untuk mengajarkan 3 hal tersebut sebelum pada waktunya diajari sholat.

Ini PR kita bersama. Jangan sampai kita terlalu bersemangat mengajarkan anak-anak sholat, namun lalai mengajarkan rasa syukur, tauhid, dan muraqabatullah. Jangan sampai kita hanya terfokus pada gerakan dan bacaan sholat anak, namun abai terhadap 3 poin tersebut. Dan selanjutnya, pada masa anak mulai diajarkan sholat di usia 7 tahun, dan lebih tegas lagi di usia 10 tahun. Boleh dipukul jika anak lalai di usia itu. Namun tetap, pukulan yang tidak menyakiti.

Adapun setelah anak diajari sholat, ajarkan pula konsekuensi sholat. Bahwa sholat itu (hendaknya) mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Wallahu a’lam bish showwab.

***
Catatan:
Artikel di atas ini adalah sedikit di antara sekian banyak hikmah yang saya dapatkan dari kajian keluarga bersama Ustadz Salim A. Fillah dalam sepemahaman saya. Jadi mungkin akan ada sedikit perbedaan persepsi antara saya dengan para peserta kajian yang lain.

Sumber: FB Yannah Akhras

Latest Post

[Worklife] Temanmu betah lama di tempat kerjanya? Kok bisa? Simak rahasianya!

Temanmu betah lama di tempat kerjanya? Kok bisa? Simak rahasianya! Kehadiran seseorang di tempat kerja setiap hari, bukan hanya untuk bekerj...